ERA MOBILE PAYMENT

Akan datang masa dimana MOBILE PHONE menggantikan uang kertas yang Anda miliki sekarang.



Inilah yang dinamakan dengan [ Mobile Payment ]


Tanpa repot kehilangan uang
Tanpa repot bawa uang kertas
Tanpa repot uang kembalian
Cukup dari 1 media yaitu Mobile Phone sudah bisa melakukan berbagai macam Transaksi.
Seperti video di bawah ini, masyarakat China sudah fasih dengan teknologi Mobile Payment ini dan menggunakannya sehari hari.
Bagaimana dengan Indonesia?
Cuma tunggu waktu saja.
Melihat perkembangan teknologi yang ada, tidak akan butuh waktu yang lama untuk terjadi.


KABAR BURUKnya :


China sudah agresif melakukan pergerakannya ke Indonesia.
Alibaba dengan manuver di Tokopedia dan Lazada
Tencent dengan manuver di Gojek dan Traveloka
Apakah kita mau menjadi penonton saja?
Membiarkan AliPay dan TenPay merajai Mobile Payment di Indonesia?


KABAR BAIKnya :


Disinilah ZimplePay hadir
Bukan sekedar Payment Gateway, namun 100% Mobile Payment milik Indonesia yang siap bersaing.
Saatnya rapatkan barisan dan SOLID!

KEBANGKITAN SHARING EKONOMI DI INDONESIA





Jakarta, CNN Indonesia -- Bayangkan Anda seorang turis yang datang ke suatu negara untuk menghadiri pesta. Anda menginap di apartemen yang disediakan individu, bukan jaringan hotel. Pergi ke sana-sini dengan kendaraan yang juga disediakan individu, bukan operator taksi. Menyewa tuxedo elegan karena tak mau ribet membawanya di pesawat. Semua itu Anda pesan dari aplikasi berbasis Internet yang akan membantu mengurangi biaya ketimbang harus membeli semua keperluan itu. 

Ini adalah contoh kecil dari ekonomi berbagi atau sharing economy, di mana individu dapat meminjam atau menyewa aset milik orang lain.

Model ekonomi berbagi kebanyakan meminjam atau menyewakan aset bernilai tinggi yang belum dimanfaatkan secara maksimal sepanjang waktu.

“Ketika banyak konsumen masih memiliki masalah dengan produk dan jasa yang memenuhi kebutuhannya, maka disitu merupakan peluang terciptanya solusi yang lebih inovatif, termasuk dengan model marketplace dan sharing economy,” kata Andrias Ekoyuono, Business Development Ideosource, sebuah perusahaan modal ventura yang berbasis di Jakarta.

Sharing economy bukanlah hal baru. Tetapi ada beberapa faktor yang membuatnya bangkit belakangan ini dan jadi model bisnis yang banyak didukung, termasuk di Indonesia.

Pertama, akses Internet yang memberikan sarana untuk bertukar informasi. Kedua, perangkat mobile yang membuat kemudahan akses terhadap informasi itu menjadi kapan saja dan di mana saja saat dibutuhkan.

Hal ketiga, ini bisa jadi adalah hal terpenting menurut pandangan Andrias, kemunculan platform marketplace di Internet yang menciptakan relasi baru yang bentuknya bukan lagi dari konsumen-korporasi-pekerja, tetapi berubah jadi konsumen-wirausaha penyedia produk dan jasa.

Model ekonomi berbagi ini memiliki kelebihan akses yang luas terhadap ketersediaan, karena barang atau jasa bisa disediakan oleh siapa saja.

Salah satu contohnya adalah Airbnb, yang menyediakan tempat tinggal sementara di berbagai kota di dunia. Kemudian Uber yang menyediakan kendaraan mobil. Aset rumah/apartemen dan mobil itu bisa disediakan oleh siapa saja, tak terbatas pada satu korporasi saja atau beberapa pekerja saja yang mengoperasikannya.

Dari banyaknya pihak yang memberikan barang dan jasa itu, konsumen semakin diuntungkan karena ada keberagaman pilihan dan kemudahan pemenuhan kebutuhan.

Dari konsep berbagi ini pula, menurut Andrias, memungkinkan terjadinya harga lebih efisien karena di sana terjadi efisiensi pula dalam hal penyediaan kebutuhan dan operasionalnya.

Namun, Andrias memandang ada beberapa kekurangan yang bisa timbul dari model ekonomi berbagi ini. 

“Sementara kekurangannya tentu saja kemungkinan ketidakseragaman kualitas produk dan layanan dari merchants, serta ragam perilaku konsumen. Namun semua biasanya dipantau melalui sistem rating,” kata Andrias ketika berbincang dengan CNNIndonesia.com.

Selama ini rating atau jumlah bintang/poin yang dikumpulkan penyedia barang/jasa menjadi acuan bagi konsumen untuk memanfaatkan apa yang diberikan penyedia.

Jika si penyedia memberi layanan yang memuaskan, si konsumen yang senang dengan pelayanan itu akan memberikan bintang atau poin yang besar. Bintang atau poin ini akan terakumulasi dari puluhan bahkan jutaan konsumen yang memberikan bintang atau poin itu.

Papan Selancar dan Pelampung

Sebelum masa Internet ada, model ekonomi berbagi telah hadir di tengah masyarakat. Salah satu yang lekat dalam ingatan kita orang Indonesia, adalah penyewaan pelampung jika hendak bermain di pantai.

Bagi Anda yang berlibur ke Bali untuk berselancar di laut, tentu lebih memilih menyewa papan selancar ketimbang harus membeli dan membawanya dari rumah. Padahal, belum tentu juga mahir memainkannya.

Begitu juga dengan lahan parkir. Bagi yang tak memiliki lahan luas, mereka bisa menyewa lahan kepada tetangga yang punya lahan tak terpakai, namun dengan konsekuensi membayar sejumlah uang untuk sewa.

Pola saling pinjam dan saling memanfaatkan ini berbeda dengan model konglomerat. Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia sekaligus Pendiri Rumah Perubahan, Rhenald Kasali berpendapat, model konglomerat selama ini berupaya untuk memiliki semua aset.

Sementara model ekonomi berbagi, membutuhkan partisipasi dari para pemain yang terlibat dalam ekosistem untuk berbagi peran masing-masing dan memberdayakan aset yang menganggur.

"Sharing economy adalah sikap partisipasi dalam kegiatan ekonomi yang menciptakan value, kemandirian, dan kesejahteraan," jelasnya saat berbincang dengan CNNIndonesia.com.

Di era Internet, ekonomi berbagi diterapkan di beberapa situs web atau aplikasi seperti Tokopedia yang menyediakan berbagai macam produk, lalu Gojek yang menyediakan kendaraan ojek motor, dan GrabCar yang menyediakan mobil panggilan. Dengan aplikasi dan Internet, ekonomi berbagi bangkit dan semua mata tertuju padanya.

Semua layanan itu memungkinkan siapa saja menjadi pengecer atau penyewa sekaligus pengemudi kendaraan. Model ini memungkinkan konsumen terhubung langsung dengan wirausahawan/penyedia barang atau jasa lewat sebuah platform Internet.

Keuntungan dan Kontroversi

Andrias berkata, jika model ekonomi berbagi ini berjalan dengan baik, konsumen akan diuntungkan dengan kecepatan pemenuhan kebutuhan, keberagaman pilihan, dan harga yang kompetitif.

Harga lebih murah bisa diberikan karena pada umumnya, penyedia barang atau jasa adalah individu atau wirausahawan kecil yang memiliki struktur biaya lebih murah dibandingkan korporasi. 

Pengemudi Gojek mencari penumpang lewat aplikasi di kawasan Sudirman, Jakarta, pada 18 Desember 2015. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Ditambah lagi dengan model bisnis marketplace paltform teknologi hanya mengutip sedikit keuntungan dari setiap transaksi, sehingga ini memungkinkan harga yang dijual ke pasar lebih kompetitif.

“Sistem ini juga menciptakan banyak lapangan kerja dan wirausahawan kecil yang memiliki akses terhadap konsumen serta kesempatan untuk lebih berkembang sesuai dengan kerja keras dan kualitasnya,” tegas Andrias.

Seperti halnya Gojek, telah mempekerjakan sekitar 200.000 pengemudi ojek motor di seluruh Indonesia pada akhir 2015, di mana sekitar 100.000 dari jumlah itu berada di Jakarta.

Dalam sebuah kesempatan berbincang dengan CNNIndonesia.com, Pendiri sekaligus CEO Gojek Nadiem Makarim berkata, pihaknya telah melepas belenggu para pengemudi ojek motor, di mana mereka bisa memberi layanan lebih berupa kurir instan sampai pembeli makanan dan kebutuhan sehari-hari.

Namun di balik segala keuntungan itu, model ekonomi berbagi berbasis teknologi pasti bertemu dengan kendala regulasi. Ini terjadi di semua belahan negara. Terkait pajak. Terkait izin. Terkait lain-lain.

"Semua penerapan yang dilakukan belum ada izinnya. Maka baru-baru ini untuk kasus Uber dan Grab, dibikin jalan tengahnya untuk bikin koperasi. Namun hal ini 'kan baru tercetus setelah sudah banyak pro dan kontra. Pemerintah saya lihat memang belum sigap dengan birokrasi yang lama," ucap Rhenald.

Di Amsterdam, pejabat menyisir daftar di Airbnb untuk melacak hotel tanpa izin. Di Jakarta, baru saja terjadi demonstrasi besar-besaran dari sopir taksi yang memprotes layanan kendaraan panggilan berbasis aplikasi, baik itu mobil atau motor.

Ekonomi berbagi adalah contoh atas manfaat dari Internet dan teknologi. Konsumen menikmati harga yang kompetitif. Tetapi ada saja upaya menghentikan kompetisi. Di sisi lain regulator akan terbangun untuk melihat apa yang terjadi. Ini adalah tanda dari sebuah potensi. Inilah waktu untuk mulai peduli dengan ekonomi berbagi.













PROGRAM SOLID REBORN

PROGRAM DANA KEPEMILIKAN


Bisa jadi informasi yang akan Anda dapatkan dibawah ini,  adalah jawaban dari doa2 Anda selama ini. Sebuah SOLUSI dari Teknologi Digital yang bisa mengubah kehidupan kita menjadi lebih baik, tentu atas seijin Tuhan Yang Maha Esa.



Anda akan menemukan rahasia tentang bagaimana Anda bisa memiliki Rumah dan Mobil GRATIS tanpa kredit.



PROGRAM SOLID REBORN












































Keterangan lebih lanjut, hubungi :

HUB ORANG YANG 


MENGUNDANG ANDA





Keterangan lebih lanjut, hubungi :

0812.8784.9499


Atau langsung registrasi dibawah ini :
https://peluangbisnisfintech.blogspot.co.id/2017/07/zimple-register.html

TANYA JAWAB SEPUTAR SOLID PROJECT 7

APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN CPOIN ?
JAWAB :
Untuk setiap member yang tergabung di GOLD akan dapat CPOIN. 
Analogi nya seperti ini..
CPOIN itu seperti saham bagi hasil (keuntungan). Nilai CPOIN akan terus naik seiring dengan jumlah omset Perusahaan, dan bisa dicairkan menjadi rupiah setelah 1 tahun, terhitung dari tanggal bergabung GOLD.
Sumber mendapatkan CPOIN ada 2 (dua) :
  1. Member bergabung GOLD (Rp 2.850.000,-)
  2. Melakukan Repeat Order.

Disinilah uninya Marketing Plan Classic yang dipakai oleh SOLID PROJECT 700:700. Tidak ada potongan auto maintenance, bahkan plan rekrut tanpa perlu repeat order. Tapi karena setiap kali repeat order akan mendapatkan CPOIN, maka member akan rutin repeat order.

APAKAH CPOIN SAMA DENGAN e-poin ?
Jawab :
CPOIN tidak sama dengan e-poin.
CPOIN = Saham yang kita miliki di perusahaan.
e-poin = Komisi kita di e-wallet.

SALDO e-poin BISA DICAIRKAN?
jawab :
e-poin yang kita miliki bisa dicairkan ke :
  1. Rekening kita (cash rupiah)
  2. Voucher Alfamart
  3. Voucher Carefour
  4. Voucher Indomaret

KALAU ALAMAT TINGGAL BEDA DENGAN KTP, MANA YANG DIPAKAI?
Jawab :
Yang dipakai alamat sesuati KTP

INI SISTEM NYA BINARY ATAU MATAHARI?
Jawab:
Sistem menggunakan sistem HYBRID. Kombinasi binary dengan matahari.


KAPAN LAUNCHING NYA?
Jawab:
7 JULY 2018

ADA PERTEMUAN BOP NYA?
Jawab:
Pertemuan BOP nya ada 2 jenis.
1.  Online  Opportunity Meeting.
     Tiap hari Senin & Kamis pk 20.00 melalui group WA (WhatsApp)
2.  Offline (Offline Opportunity Meeting).
     Tiap  Sabtu pk 10.00 WIB dan pk 13.00 WIB di kantor pusat  Kelapa Gading,      Jakarta.
Kantor Pusat PT. EL John Digital Finance ada di :
PLAZA PASIFIC A4-80
KELAPA GADING

INI SISTEM NYA BINARY ATAU MATAHARI?

Jawab:
Sistem menggunakan sistem Matahari seperti Bisnis Konvensional pada umumnya.
Mengapa bukan binary ?
Karena pada dasarnya sistem Binary memiliki maksimal pasangan tiap harinya, yang pada akhirnya nanti justru akan membatasi penghasilan kita.
Sistem Matahari tidak ada batasan penghasilan per hari atau per bulan.






                                

SHARING ECONOMY: TREN BISNIS YANG TAK TERBENDUNG



Yuswohady, Pakar Pemasaran
Konsep sharing economy, atau disebut juga collaborative consumption, baru berkembang kira-kira 10 tahun lalu. Salah satu pemicunya adalah munculnya kesadaran akan sumber daya yang kian terbatas. Terutama, oleh adanya kecenderungan untuk melakukan konsumsi secara berlebihan. Berkat sharing economy, penggunaan sumber daya yang ada bisa menjadi lebih irit dan efisien karena dipakai bersama. Alhasil, konsep ini juga bisa dikatakan ramah lingkungan.

Salah satu penerapan sharing economy, yaitu bisnis dengan aset yang ramping atau asset light company, sudah dikenal lama sebelumnya. Bisa dibilang, memiliki asset light company adalah idaman  tiap pengusaha. Tanpa memiliki banyak aset, mereka dapat memperoleh keuntungan yang lumayan. Contoh sukses konsep bisnis ini adalah Zipcar, perusahaan car sharing yang dimulai di Boston, Amerika Serikat, pada tahun 1999. 
Kini, dengan menjalankan sharing economy dan bermodalkan online platform yang biayanya relatif rendah, memiliki bisnis yang asetnya ramping  makin memungkinkan. Dari segi manajemen, model bisnis ini menghadirkan inovasi nilai (value innovation), yang dapat menguntungkan semua pihak yang terlibat, mulai dari pihak pebisnis sebagai pencipta platform, juga penyedia layanan dan pelanggan.

Pemanfaatan teknologi mutakhir juga menimbulkan ‘cool factor’, sehingga masyarakat makin tergerak untuk menjajal bisnis yang menerapkan konsep sharing economy. 
Indonesia tidak ketinggalan menjajaki tren ini. Beberapa yang sudah menerapkan konsep bisnis ini di dalam negeri misalnya Bistip.com. Dengan layanan peer-to-peer courier service, pengguna dapat menitip barang pada pengguna lain yang akan bepergian ke luar kota atau luar negeri dengan biaya tertentu. Contoh lainnya adalah Go-Jek, yang menggunakan platform berupa aplikasi mobile sebagai marketplace untuk pengemudi dan penumpang ojek.

Ke depannya, sharing economy akan terus berkembang, tak hanya sebagai tren bisnis, namun juga alternatif solusi permasalahan sosial. Perusahaan akhirnya menjadi milik banyak orang, sehingga turut bermanfaat untuk memberdayakan banyak orang yang terlibat, dan dicintai para stakeholder-nya.
Dalam persaingan bisnis pun konsepnya bukan lagi dog eat dog atau condong pada persaingan yang ‘mematikan’. Tetapi, lebih kepada persaingan yang berbasis kolaborasi. Sehingga, yang kemudian timbul adalah coopetition, leburan dari cooperation dan competition.

Persaingan yang kolaboratif ini sekarang menjadi tren yang positif, sehingga bisnis menjadi lebih ramah. Dengan penggunaan platform berbasis teknologi informasi, persaingan yang berbasis kolaborasi ini menjadi lebih teratur. 
Sementara itu, ketika muncul model bisnis baru, terkadang yang menjadi korban adalah model bisnis yang lama. Namun, justru di saat inilah, kesempatan bagi para wirausaha agar jeli melihat peluang sharing economy terbuka lebar. Apalagi, saat ini  sharing economy sudah menjadi tren global, dan masa depan semua aspek bisnis akan menjadi seperti ini.

Dalam mengembangkan model bisnis sharing economy, tantangan yang paling besar adalah trust atau kepercayaan. Karena adanya hubungan saling menguntungkan bagi  tiap stakeholder yang terlibat, mereka akan saling menjaga kepercayaan itu. Tapi, di tengah persaingan, bisa saja ada oknum yang melakukan tindak kriminal dengan mengambinghitamkan bisnis tertentu untuk merusak kepercayaan publik. 
Lebih jauh, implikasi dari kepercayaan ini adalah kurangnya quality control dari pebisnis. Bila ingin memiliki kontrol yang lebih ketat, harus ada kepemilikan aset, sehingga nanti bisnisnya tidak lagi asset light.

Di lain pihak, terkadang regulasi belum bisa mengikuti pesatnya perkembangan teknologi. Padahal, hal itulah yang turut mendorong munculnya model-model bisnis baru seperti bisnis asset light yang berdasarkan sharing economy. Ketika ini terjadi, ada dua hal yang perlu dipertimbangkan. 

Jika belum ada peraturan, pemerintah harus bisa tanggap dan membuatkan payung hukum untuk mendukung beroperasinya bisnis yang sudah ada. Karena, bila  berpasrah pada mekanisme pasar, bisnis yang berbasis komunitas, apalagi jika dijalankan di online platform, punya kecenderungan untuk menjadi monopolistis. Namun, jika sudah ada regulasi sebelumnya, pengusahalah yang harus berinovasi untuk menyesuaikan model bisnisnya, agar tidak melanggar aturan. Bila ada tentangan, misalnya pemboikotan Go-Jek, itu bisa diatur dengan campur tangan pemerintah lewat regulasi yang ada atau akan dibuat. 

Bila Anda hendak merintis bisnis dengan aset yang ramping, terutama yang berbasis teknologi informasi, mulailah dengan bereksperimen dalam skala kecil. Ini penting untuk melihat apakah model bisnisnya bisa berjalan. Bila berhasil, saatnya memperbesar bisnis dengan menggaet investor. 

Setelah mendapatkan pendanaan, barulah Anda akan diuji betul, apakah model bisnisnya akan bisa berjalan di skala yang lebih besar. Selanjutnya adalah proses peningkatan layanan, seperti menambahkan fitur, memperkuat trust, memperbaiki layanan pelanggan dan operasional, sambil terus melakukan inovasi lanjutan.

Nantinya, perusahaan dengan model sharing economy atau collaborative consumption akan menjadi mainstream. Sekarang pun kita sudah mulai menyadari bahwa sumber daya  makin terbatas sehingga harus  makin dihemat. Tekanan-tekanan seperti ini nantinya akan mendorong  tiap perusahaan untuk peduli pada lingkungan dan permasalahan sosial. 


SOLID PROJECT7

SOLID PROJECT7
Solusi keuangan menambah penghasilan dengan membangun aset
Diberdayakan oleh Blogger.